Monthly Archives :

May 2017

villa isola

Villa Isola; Bangunan unik mirip pesawat luar angkasa

670 700 Irfan Noormansyah

Bila kita hendak berwisata ke kawasan Lembang, kita dapat melihat sekelebat bangunan besar berwarna putih di samping kiri jalan yang bentuknya nyaris tak memiliki sudut. Bangunan itulah Villa Isola yang saat ini digunakan sebagai Kantor Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Sekilas bangunan yang satu ini mirip kapal pesiar bila dilihat dari depan, ada juga yang menyebutkan bahwa Villa Isola mirip pesawat luar angkasa. Karena keunikan bentuknya, Villa Isola banyak dijadikan latar untuk berfoto, termasuk foto pre-wedding.

Villa ini didesain oleh Charles Prosper Wolff Schoemaker atas titah sang empunya yaitu Dominique Willem Berrety. Dominique Willem Berrety ini seorang blasteran Jawa-Italia yang menjadi raja Koran di Hindia Belanda. Hanya dalam jangka waktu 6 bulan, bangunan Villa Isola ini rampung dibangun. Namun sayangnya, Berrety tak dapat lama menikmati bangunan miliknya tersebut karena kematiannya setahun kemudian. Untuk membangun Villa Isola, konon Berrety sampai mengeluarkan uang yang jumlahnya sangat luar biasa. Jumlahnya setara dengan 250 milliar rupiah bila dikonversi dengan nilai mata uang hari ini.

Di bagian dalamnya terdapat sebuah tulisan yang bertuliskan “M’Isolo E Vivo” yang memiliki arti “menyendiri untuk bertahan hidup”, kini tulisan tersebut telah berganti menjadi Bumi Siliwangi setelah digunakan oleh pihak Universitas Pendidikan Indonesia. Akan tetapi walaupun telah berganti nama, mahasiswa UPI, warga Bandung dan wisatawan tetap memanggil bangunan ini dengan sebutan Villa Isola. Bahkan nama Isola sendiri telah menjadi nama kelurahan di mana bangunan ini berdiri.

Bila kita naik ke lantai paling atas bangunan ini, kita dapat melihat pemandangan Kota Bandung yang luar biasa karena lokasinya yang berada di dataran tinggi Kota Bandung. Namun memang agak sulit untuk dapat memperoleh ijin memasuki Villa Isola saat ini, hal ini dikarenakan fungsi bangunannya tersebut yang telah berubah menjadi kantor. Walaupun begitu, bagian pelataran depan dan belakang  yang berfungsi sebagai taman dapat dikunjungi setiap harinya oleh siapapun selama menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya.

toko roti sumber hidangan

Toko Roti Sumber Hidangan

800 533 Irfan Noormansyah

Kelezatan kuliner Bandung tak hanya populer pada masa sekarang saja, karena sejak jaman pemerintahan Kolonial Belanda pun Bandung sudah sangat terkenal jago dalam hal santapan. Salah satu kuliner legendaris di Bandung yang masih bertahan sampai dengan sekarang adalah Toko Roti Sumber Hidangan.

Pada saat pertama kali hadir di Jl. Braga tahun 1929, Sumber Hidangan berdiri dengan nama Het Snoephuis yang memiliki arti Rumah Manis. Sesuai dengan namanya, Sumber Hidangan menyajikan beragam santapan dengan rasa manis yang lezat dan bentuk yang menggoda. Roti dan kue yang dijual di Sumber Hidangan ini memang berbeda dari yang bisa kita temukan di Bandung saat ini. Kue-kue klasik khas Belanda seperti Bokkepoot, Suiker Hagelslag, Likeur Bonbon dan Vruchten Zandtaart dapat ditemukan di sini.

Selain roti dan kue, Sumber Hidangan juga menawarkan beragam dessert yang masih menjadi favorite hingga kini. Salah satu dessert yang banyak disukai adalah home made ice cream-nya yang sangat lezat dan creamy. Sumber Hidangan juga sempat menjual aneka menu main course seperti Nasi Goreng, Wiener Schnitzel dan Bistik.

Bagi yang pertama berkunjung, agak sulit untuk menemukan toko roti ini, karena toko roti ini tidak memajang plank namanya di luar dan di pelataran toko tersebut banyak pelukis jalanan yang memajang karyanya menutupi area toko.

Bangunan yang digunakan pada saat dulu bernama Het Snoephuis masih dipertahankan bentuk dan interiornya sampai sekarang di Jl. Braga No. 20-22 Bandung, bahkan sebuah mesin kasir raksasa masih bertengger di salah satu sudutnya. Isi bangunan ini sendiri terbagi menjadi dua bagian. Satu bagian digunakan untuk etalase roti dan kuenya, sedang bagian lain digunakan sebagai area makan yang diperuntukkan bagi pengunjung yang dine in.

Pada jaman dahulu, Toko Roti Sumber Hidangan memberlakukan sistem siesta pada operasionalnya sehari-hari. Siesta adalah jam tidur siang bagi karyawan pada aktivitas operasionalnya. Sistem siesta ini dulu sempat populer digunakan di berbagai toko di Bandung. Pada siesta, ketika jam menunjukkan pukul 13.00 maka toko akan tutup dulu untuk memberikan waktu tidur siang hingga buka kembali pada pukul 17.00. Sekarang Sumber Hidangan sudah tidak memberlakukan sistem ini pada jam operasionalnya, Sumber Hidangan kini hanya buka pada hari Senin-Sabtu mulai pukul 09.00 hingga pukul 15.00.

asal usul dan sejarah jalan braga

Jalan Braga: Asal usul nama dan sejarah terkait

640 424 Irfan Noormansyah

Jalan Braga, salah satu ruas paling populer di Kota Bandung. Gedung-gedung bergaya arsitektur Eropa masih lestari di sepanjang jalan ini, hingga jalan ini menjadi tempat favorite untuk berwisata dan berfoto ria. Ada beberapa versi yang menyatakan asal usul nama Jalan Braga, salah satunya menyebutkan bahwa nama Jalan Braga diambil dari kata Bahasa Sunda yaitu “baraga” atau ‘ngabaraga” yang memiliki arti berjalan menyusuri sungai, karena memang Jalan Braga ini berada tepat di samping Sungai Cikapundung. Namun ada versi lain yang menyebutkan bahwa Braga diambil dari sebuah grup kesenian tonil dan musik yang bernama Toneelvereeniging Braga yang sering tampil di jalan tersebut. Selain itu ada juga versi yang menyebutkan bahwa Braga diambil dari sebuah minuman khas Rumania yang biasa disajikan di Societeit Concordia yang berada di ujung jalan tersebut.

Sebelum dikenal dengan nama Jalan Braga atau Braga Weg, jalan ini diberi nama Pedati Weg atau Jalan Pedati yang memang dulu banyak dilalui oleh moda transportasi tersebut. Dalam bahasa Belanda, Pedati Weg juga disebut dengan Karren Weg.

Bicara soal grup kesenian Toneelvereeniging Braga, grup ini merupakan bentukan dari Pieter Sijthoff yang merupakan Asisten Residen Priangan saat itu. Toneelvereeniging Braga kemudian banyak mendapat tempat untuk unjuk kebolehan di Gedung Societeit Concordia yang kini digunakan sebagai Museum Konperensi Asia Afrika Bandung. Mungkin dapat dikatakan bahwa versi pengambilan nama Braga yang paling mendekati kebenaran adalah karena ada Toneelvereeniging Braga. Karena setelah mereka mulai manggung di jalan ini pada tahun 1882, Karren Weg mulai dikenal dengan nama Braga Weg.

Di Gedung Societeit Concordia ini Toneelvereeniging Braga banyak menghibur para golongan elit Eropa yang tinggal di Bandung. Banyak di antara elit Eropa tersebut merupakan juragan perkebunan yang disebut dengan preangerplanters serta pejabat Pemerintahan Kolonial Belanda.

Nama Braga sendiri tak hanya berada di Bandung, Indonesia, karena kita juga dapat menemukan Braga sebagai nama sebuah kota di Portugal, sebuah negara di bagian barat daya Eropa

hotel homann sejarah bandung

Peran Hotel Homann dalam Sejarah Bandung

800 563 Irfan Noormansyah

Siapa tak tahu Hotel Homann ? Sebuah hotel legendaris di Kota Bandung yang masih berdiri tegak sampai dengan sekarang. Namun tak banyak orang yang tahu bahwa dulunya Hotel yang dibangun oleh Adolf & Maria Homann ini hanya berbilik bambu dan beratapkan jerami saat pertama kali berdiri pada sekitar tahun 1871 dengan nama Hotel Post Road.

Bangunan hotel tersebut beberapa kali mengalami beberapa kali perubahan bentuk dan nama hingga dikenal dengan nama Grand Hotel Homann. Perubahan paling signifikan terjadi pada tahun 1937-1939, di bawah intruksi pemiliknya yang baru yaitu Mr. F.J.A Van Es, arsitek ternama Albert Frederick Aalbers merancang bangunan Homann dengan gaya Streamline Art Deco yang megah. Bangunan tersebut menjadi kembaran bangunan Bank Denis (kini digunakan oleh BJB) yang terletak di kawasan Jl. Braga.

Nama Grand Hotel Homann pun berganti menjadi Hotel Savoy Homann pada tahun 1940. Nama Savoy ditambahkan untuk menegaskan kebesarannya. Bentuk bangunan Hotel Savoy Homann yang didesain A.F Aalbers pun bertahan sampai saat ini dengan penambahan fasilitas dan gedung baru di bagian belakang hotel.

Setelah Van Es meninggal dunia, kepemilikan sempat berganti kepada istrinya yang kemudian menjual Homann kepada R.H.M Saddak yang merupakan pengusaha ekspor-impor ternama di Indonesia. R.H.M Saddak juga tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Kepemilikan atas Homann pun kembali berganti kepada H.E.K Ruchiyat pada tahun 1987 sebelum akhirnya kini dimiliki oleh Bidakara Group sejak tahun 2000.

Hotel yang kini bernama lengkap Hotel Bidakara Grand Savoy Homann ini sempat ikut ambil bagian dalam peristiwa Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diselenggarakan pada tahun 1955. Di hotel inilah para perwakilan Negara yang hadir dalam event akbar tersebut menginap, termasuk Presiden Sukarno yang menetap di kamar 244. Kamar tersebut sekarang masih disewakan oleh pihak hotel dengan harga yang cukup lumayan. Kedatangan para perwakilan Negara peserta KAA tersebut masih dapat dilihat jejaknya pada buku tamu yang disebut dengan “Golden Book”. Buku ini masih bisa dilihat dalam etalase kaca di salah satu sudut Hotel Bidakara Grand Savoy Homann kini.

Selain para perwakilan Negara peserta KAA, sejarah pun sempat mencatat bahwa Hotel Homann pernah kedatangan aktor dunia Charlie Chaplin sebanyak dua kali. Kunjungan pertamanya pada tahun 1928 bersama rekan aktrisnya yaitu Mary Pickford, sedangkan kedatangannya yang kedua pada 1932 ia ditemani oleh kakaknya yaitu Sydney Chaplin.

Satu abad lebih setelah kehadiran Hotel Homann di Kota Bandung, Hotel ini telah menjadi sebuah bangunan heritage paling populer dan banyak dikunjungi wisatawan. Baik yang menginap maupun yang hanya ikut berfoto dengan latar bangunan tersebut.

sukarno di bandung

Jejak Sukarno di Bandung

594 431 Irfan Noormansyah

Ke Bandunglah aku kembali kepada cintaku yang sesungguhnya”, begitu bunyi sebuah kutipan populer dari Presiden pertama Republik Indonesia Dr. Ir. Sukarno kepada istrinya Inggit Garnasih di Bandung.  Inggit Garnasih sendiri merupakan istri kedua pria yang akrab dikenal dengan nama Bung Karno ini sebelum menjadi Presiden RI. Kurang lebih selama 20 tahun rumah tangga mereka berjalan, hingga akhirnya bercerai pada tahun 1943.

Selain karena kisah cintanya bersama Inggit Garnasih, Bung Karno memiliki jejak bersejarah yang ditinggalkannya di Kota Bandung. Bung Karno yang memiliki nama asli Koesno Sosrodihardjo ini tercatat pernah berkuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS) jurusan Tehnik Sipil atau yang kini dikenal dengan Insitut Teknologi Bandung (ITB).

Setelah lulus dari THS, Bung Karno sempat mendirikan Biro Insinyur bersama Ir. Anwari. Tak banyak yang tahu bahwa beberapa bangunan di Kota Bandung pun dirancang oleh pahlawan proklamator RI tersebut. Di bawah bimbingan arsitek ternama Charles Prosper Wolff Schoemaker, ia berkesempatan menjadi juru gambar Hotel Preanger. Tak berhenti sampai di situ, Bung Karno pun sempat mengarsiteki Rumah Dinas Walikota Bandung dan beberapa rumah yang tersebar di Kota Bandung. Ciri rumah rancangannya memiliki ornament Gada di bagian puncak atapnya, dengan alasan karena gada merupakan senjata dari tokoh pewayangan favoritenya yaitu Bima. Rumah hasil rancangannya dapat ditemukan di Jl. Kasim, Jl. Gatot Soebroto, Jl. Dewi Sartika dan beberapa kawasan lainnya.

Pada tahun 1929, Bung Karno pun pernah merasakan mendekam di balik dinginnya jeruji besi karena dianggap melakukan pemberontakan terhadap Pemerintahan Hindia Belanda. Selama kurang lebih 1 tahun 2 bulan, Bung Karno bersama ketiga kawannya disekap di Penjara Banceuy. Selama berada di dalam sel yang ukurannya hanya sekitar 2 x 1,5 meter ini, Bung Karno menuliskan pembelaannya yang diberi nama “Indonesia Menggugat”. Gedung Landraad atau dalam Gedung Pengadilan Negeri di mana ia diadili dulu kini dinamakan sesuai dengan judul pembelaan yang ia tulis dahulu, yaitu Gedung Indonesia Menggugat.

tugu nol kilometer bandung

Dimana letak tugu Nol Kilometer Bandung?

1280 960 Irfan Noormansyah

“Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!”. Artinya : “Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota!”, begitu kalimat yang diucapkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda sambil menancapkan tongkatnya ke tanah. Di tempat ia menancapkan tongkatnya itulah yang dijadikan tugu 0 (nol) kilometer dari Kota Bandung.

Tugu Nol Kilometer Bandung ini berada di tengah-tengah kawasan trotorar Jl. Asia Afrika Bandung, tepat di pelataran Kantor Dinas Bina Marga Propinsi Jawa Barat. Pada tugu tersebut tertulis CLN 18 dan PDL 18 yang artinya bahwa ke arah timur dari tugu tersebut adalah kawasan Cileunyi yang berjarak 18 Km, sedangkan PDL 18 menunjukkan arah menuju Padalarang yang juga berjarak 18 Km.

Di bagian belakang tugu tersebut terdapat monumen stoomwals serta 4 patung dada tokoh yang punya hubungan erat dengan Kota Bandung. Selain patung Herman  Willem Daendels, terdapat pula patung Bung Karno sang Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, Sutardjo Kartohadikusumo yang merupakan Gubernur Jawa Barat pertama, serta Wiranatakusumah II yang menjabat sebagai Bupati Bandung pada saat pembangunan Kota Bandung.

Bung Karno memiliki kaitan erat dengan Bandung karena Bandung adalah tempatnya menimba ilmu serta mendapatkan cinta sejatinya, yaitu Inggit Garnasih. Selain itu Bung Karno pernah ditahan selama kurang lebih 1 tahun 2 bulan di penjara Banceuy bersama 3 orang kawannya karena dianggap melawan Pemberontakan terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda saat itu.

Area Tugu Bandung Nol Kilometer ini termasuk area yang ramai dikunjungi dan dilalui oleh warga Bandung maupun wisatawan yang berkunjung. Tepat di sebelahnya, terdapat Kantor Harian Umum Pikiran Rakyat, sedangkan tak jauh di seberang jalannya terdapat Hotel yang merupakan salah satu bangunan bersejarah, yaitu Hotel Bidakara Grand Savoy Homann Bandung. Tak hanya dekat dengan Homann, Tugu Bandung Nol Kilometer ini juga dekat dengan bangunan heritage lainnya seperti De Vries, Rathkamp, Majestic, Gedung Merdeka dan Preanger Hotel.

sumber foto: arifsetiawan.com