Monthly Archives :

June 2017

Jalan Astana Anyar; Asal usul penamaan

150 150 Irfan Noormansyah

Jalan Astana Anyar merupakan sebuah jalan yang membentang dari Pasar Anyar hingga terhubung langsung ke Jl. Gardujati. Pemberian nama Astana Anyar berkaitan dengan keberadaan kuburan baru yang berada di daerah tersebut. Secara bahasa, ‘astana’ memiliki arti ‘makam’, sedangkan ‘anyar’ memiliki arti ‘baru’.

Jalan Gardujati; Asal usul penamaan

150 150 Irfan Noormansyah

Asal mula penamaan Jl. Gardujati berasal dari keberadaan gardu (pos jaga) tentara yang terbuat dari kayu jati. Jalan ini membentang dari ujung Jl. Astana Anyar hingga Jl. Pasir Kaliki.

 

Jalan Kebon Kawung; Asal usul penamaan

150 150 Irfan Noormansyah

Jalan Kebon Kawung terletak tepat berada di kawasan bagian muka Stasiun Bandung yang menghadap ke arah utara. Penamaan jalan ini berdasarkan adanya sebuah kebun yang ditanami banyak pohon kawung (aren) di kawasan tersebut. Kini pohon kawung memang sudah nyaris tak dapat ditemui di jalan ini, namun bila kita masuk ke salah satu gang, kita dapat menemukan satu-satunya pohon kawung yang tersisa yang menjadi bagian dari sejarah kawasan ini.

Jalan Dr. Setiabudhi; Asal usul penamaan

150 150 Irfan Noormansyah

Jalan Dr. Setiabudhi merupakan jalan yang terkenal karena kemacetannya pada akhir pekan. Jalur ini merupakan jalur utama wisatawan untuk menuju kawasan wisata Lembang. Adapun nama jalan ini diambil dari seorang tokoh pergerakan nasional Indonesia yang berasal dari Belanda bernama asli Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker.

Douwes Dekker berjasa dalam mendirikan Idische Partij bersama Dr. Cipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara pada tahun 1912. Indische Partij bertujuan untuk mempersatukan semua golongan masyarakat di Indonesia, termasuk di dalamnya adalah golongan pribumi dan golongan masyarakat berdarah Eropa.

 

Jalan Ibu Inggit Garnasih; Asal usul penamaan

150 150 Irfan Noormansyah

Jalan ini kini dikenal dengan nama Jl. Ibu Inggit Garnasih untuk mengenang jasa istri ke-2 Presiden RI yang pertama ini. Ibu Inggit Garnasih memang dikenal pernah tinggal di salah satu rumah yang berada di jalan tersebut. Kini rumah bersejarah tersebut telah dijadikan salah satu cagar budaya masih dengan bentuk dan lokasi lamanya yang masih utuh. Rumah Bersejarah Ibu Inggit Garnasih dapat dikunjungi oleh siapa saja dan tanpa dipungut biaya.

Sebelum menjadi Jl. Ibu Inggit Garnasih, ruas jalan ini lebih familiar dengan nama Jl. Ciateul. Bahkan sampai sekarang pun warga Bandung masih lebih suka menyebutnya dengan Jl. Ciateul. Penamaan nama jalan tersebut berkenaan dengan pernah terjadinya banjir di daerah tersebut yang airnya menyebabkan gatal-gatal bila disentuh kulit. Dalam Bahasa Sunda sendiri ‘ci’ memiliki arti ‘air’, sedangkan ‘memiliki arti ‘gatal’. Jadi arti nama Ciateul adalah ‘air yang gatal.’

Jalan Cihampelas; Asal usul penamaan

150 150 Irfan Noormansyah

Mungkin di masa sekarang, Jl. Cihampelas dikenal sebagai jalan yang menjadi salah satu pusat wisata  belanja di Kota Bandung. Namun dulu, jalan ini dinamakan demikian karena banyak tumbuh Pohon Hampelas di sekitar jalan tersebut. Pohon Hampelas ini memiliki tekstur yang kasar pada bagian daunnya, sama kiranya seperti hampelas yang sering digunakan untuk menghaluskan permukaan kasar dari besi.

Jalan Banceuy; Asal usul penamaan

150 150 Irfan Noormansyah

Secara bahasa, Banceuy memiliki arti istal/kandang kuda. Dahulu memang di kawasan ini terdapat sebuah kandang kuda yang bersebelahan dengan penjara di mana Presiden R.I pertama dibui karena dianggap memberontak Pemerintah Kolonial Belanda. Penjara tersebut pun diberi nama Banceuy. Kini istal kuda tersebut tentunya sudah tak dapat ditemukan di ruas jalan yang satu ini.

Jalan Ciumbuleuit; MITOS Asal usul penamaan

150 150 Irfan Noormansyah

Secara bahasa Ciumbuleuit berasal dari tiga kata yaitu ‘ci’ yang berarti air, ‘umbul’ yang berarti pangkat kepala daerah di bawah Bupati pada jaman dahulu dan ‘leuit’ artinya lumbung tempat menyimpan padi. Lengkapnya arti dari Ciumbuleuit berarti dahulu pernah ada leuit yang terletak di pinggir sungai atau sekitar pesawahan di kawasan tersebut pada jaman dahulu.

Selain itu ada sebuah cerita rakyat yang beredar di kalangan warga sekitar pun mengisahkan tentang keberadaan leuit tersebut. Dikisahkan ada sepasang kakek dan nenek yang dititisi dewa tinggal di kawasan tersebut bekerja mengurus sawah. Suatu ketika, kakek dan nenek tersebut kedatangan tamu. Untuk menyuguhi tamu tersebut, si nenek menyuruh kakek untuk menanak satu batang padi saja dengan syarat tidak boleh dibuka-buka tutupnya. Karena si kakek tidak sabar, maka dari itu ia membuka tutup tanaknya. Akhirnya nasi yang ditanak pun tidak jadi, dan mereka gagal menyuguhkan nasi tersebut kepada sang tamu. Si nenek pun menjadi marah dan melemparkan nasi gagal tersebut ke tanah di sekitarnya. Tempat di mana nasi yang gagal tersebut dilempar kemudian tumbuh padi dengan subur. Kemudian hasil panen padi tersebut disimpan kakek dan nenek di sebuah leuit yang menjadi asal mula daerah ini.

Jalan Buah Batu; Asal usul penamaan

150 150 Irfan Noormansyah

Ribuan tahun yang lalu, tentunya Kota Bandung tidak seperti sekarang. Kota yang dikenal dengan julukan Kota Kembang ini merupakan sebuah danau raksasa yang disebut dengan Danau Bandung Purba. Setelah danau tersebut surut, sisa-sisa dasar danau yang berbentuk cekungan-cekungan kecil masih tampak tergenang air.  Dari beberapa cekungan tersebut, terdapat sebuah telaga yang penuh dengan batu namun ditumbuhi dengan pohon mangga di sekitarnya. Melihat kondisi tersebut, warga yang tinggal di sekitar kawasan tersebut spontan saja menyebutnya dengan Buah Batu (Buah merupakan sebutan Bahasa Sunda dari Mangga).

Jalan Aceh; Asal usul penamaan

150 150 Irfan Noormansyah

Untuk memudahkan petunjuk arah terhadap jalan-jalan di Bandung, maka pada jaman dahulu pengelompokkan nama jalan disesuaikan berdasarkan kategori tertentu. Untuk nama-nama jalan yang berada di sekitar Insulinde Park atau kini bernama Taman Lalu Lintas, nama-nama jalan tersebut dibuat berdasarkan nama daerah dan pulau-pulau besar di Nusantara. Contohnya bila kita berjalan-jalan ke daerah seputar daerah tersebut, kita akan menemukan Jl. Sumatera, Jl. Kalimantan, Jl. Jawa dan Jl. Aceh. Penamaan nama-nama tersebut juga memiliki kaitannya dengan rencana pemindahan Ibukota Hindia Belanda ke Bandung yang tidak jadi dilaksanakan. Nama-nama jalan di sekitaran area tersebut sering juga disebut dengan Archipelwijk.