Monthly Archives :

June 2019

Jalan Naripan; Asal usul penamaan

150 150 Negorij Bandoeng

Masih ingatkah tentang kenangan di Jalan Naripan? Banyak hal yang tidak bisa kita lupakan di jalan yang membentang dari Jalan Braga hingga Jalan Ahmad Yani. Pernahkah mendengar bahwa dulu ada perobekan bendera Belanda di daerah jalan ini? Itu benar sekali. Jadi aksi perobekan bendera tidak hanya di Surabaya seperti sudah banyak orang tahu. Di Bandung pun juga pernah ada perobekan bendera Belanda. Lebih tepatnya di Gedung Denis (sekarang sudah bertransformasi menjadi gedung Bank BJB) di jalan Naripan. Yang merobeknya pun adalah tiga orang pemuda yang namanya masih melekat di setiap benak masyarakat Bandung. Yakni, Mulyono, Bari Lukman, dan serta seorang lagi bernama  Muhammad Endang Karmas.

Tak hanya soal perobekan bendera berwarna biru milik Belanda, tapi ternyata juga di jalan ini telah lahir Koran Pribumi pertama di Indonesia. Medan Prijaji namanya. Koran milik pribumi ini lahir di Gedung YPK (Yayasan Pusat Kebudayan) saat ini.

Sepertinya kalau masalah hal-hal keren yang terjadi di sepanjang Jalan Naripan sudah pada banyak tahu ya. Yang belum banyak orang tahu adalah soal penamaan Jalan di daerah ini. Kok bisa sih namanya dikasih Jalan Naripan? Naripan itu apa sih? Berwujud tumbuhankah? Atau mungkin adalah seorang tokoh yang berjasa bagi masyarakat Bandung seperti halnya Dipati Ukur.

Ternyata tidak juga loh sobat. Malah Naripan ternyata adalah seorang nama orang biasa. Bukan pahlawan apalagi kalangan pejabatan dan kerajaan. Ia hanyalah seorang  pengusaha asal Betawi yang memiliki usaha menyewakan Bendi (sejenis kereta kuda yang biasanya dihias indah). Pada zaman itu para Menak Bandung (Kaum Bangsawan di Kota Bandung) jika ingin mencari kereta kuda seperti Bendi yang sangat bagus dan mewah biasanya membeli pada Firma Hallerman yang ada di sepanjang jalan Braga. Atau bagi kaum bangsawan yang low budget atau memang tidak ingin membeli Bendi, biasanya hanya menyewa pada Bang Naripan. Seorang lelaki asal Betawi yang membukan usahanya di jalan tersebut.

Karena memang pada saat itu lebih banyak yang menyewa daripada membeli Bendi, nama pemilik penyewaan Bendi (Bang Naripan) lebih dikenal orang. Sehingga jalan tersebut lebih dikenal dengan sebutan Naripan. Hingga pada akhirnya Pemerintah Bandung menetapkan jalan tersebut dengan nama Jalan Naripan. Karena sudah biasa disebut masyarakat.

Nah, ternyata sesimpel itu ya sobat sejarah dari Jalan Naripan. Jadi sekarang sudah tahu kan Naripan itu nama apa atau siapa? Sekarang saatnya share ya dan ceritakan kepada sanak saudara yang masih belum tahu tentang sosok bernama Naripan ini.

 

 

Referensi :

kumeokmemehdipacok.blogspot.com
www.serbabandung.com
indearchipel.com

Jalan Dipati Ukur; Asal usul penamaan

150 150 Negorij Bandoeng

Dipati Ukur adalah satu-satunya tokoh yang dijadikan nama jalan di Indonesia. Yakni hanya di Kota Bandung. Bagaimana tidak nama-nama tokoh seperti Jenderal Ahmad Yani, Dokter Soetomo, Diponegoro, atau bahkan seorang proklamator Ir. Soekarno, semua nama tokoh tersebut hampir selalu dijadikan nama jalan di kota-kota seantero Negeri ini. Namun tidak dengan Dipati Ukur. Ia hanya dijadikan nama jalan di Kota Bandung. Lebih tepatnya, jalan ini menghubungkan dua jalan, yakni Jalan Ir. H Djuanda (Dago) dan Pasupati. Lah kok bisa?

Iya bisalah, karena Dipati Ukur adalah nama seorang pahlawan berasal dari Bandung yang luar biasa. Sama seperti halnya di sebuah kabupaten ujung timur Pulau Madura. Di sana ada sebuah kabupaten bernama Sumenep. Memiliki pahlawan lokal bernama Jokotole. Sehingga nama Jokotole dijadikan nama jalan di Sumenep, tapi tidak di kota lain.

Artikel lebih lanjut mengenai Dipati Ukur, klik disini

Wangsanata, lebih dikenal dengan nama Dipati Ukur

300 424 Negorij Bandoeng

Yuk kenalan dengan Dipati Ukur. Jadi sebenarnya namanya adalah Wangsanata. Dikenal dengan nama Dipati Ukur karena ia adalah seorang Bupati pada saat itu. Dipati memiliki arti Bupati (di zaman sebelum kemerdekaan). Sedangkan Ukur berasal dari kata Tatar Ukur. Yakni nama daerah yang dalam bahasa Sunda berarti tanah atau wilayah. Karena itulah Wangsanata dikenal dengan sebutan Dipati Ukur.

Wangsanata atau Dipati Ukur ini mulai dikenal sosoknya setelah berusaha melepaskan tanah Bandung dari jajahan Mataram. Karena pada saat itu Mataram lebih kuat daripada Belanda yang masih lemah dalam hal militer. Wangsanata menjadi Dipati Ukur setelah menikahi putri Dipati Ukur Agung (Dipati Ukur sebelumnya. Oleh karena itu banyak riwayat yang mengatakan bahwa Dipati Ukur itu berjumlah lebih dari 1. Iya karena Dipati Ukur adalah jabatan. Bukan nama seseorang).

Dipati Ukur Wangsanata dikenal sebagai seorang sosok yang heroik. Ia berhasil menggalang massa dari tanah Pasundan agar semua kerajaan di Pasundan berjuang melepaskan diri dari Mataram, dan tidak tunduk kepada Mataram.

Karena peran heroiknya itulah banyak diceritakan turun temurun di masyarakat. Bahkan muncul juga beberapa mitos atas Dipati Ukur Wangsanata. Itu karena ia lebih memilih hidup bergerilya. Menutupi identitasnya. Tentu saja harus seperti itu agar jejaknya tidak diketahui oleh Mataram. Bahkan sampai saat ini pun pusaranya belum diketahui pasti dimana. Sama seperti halnya Pangeran Diponegoro yang sampai saat ini masih didebatkan pusaranya ada dimana. Karena memang pemberontak penjajahan pasti dicari-cari untuk dimusnahkan.

Nah bagaimana? Sekarang jadi tahu kan siapa sosok Dipati Ukur yang ada di jalanan Kota Bandung? Nah kalau sudah tahu, sekarang ceritakan dong kalau Jalan Dipati Ukur itu untuk mengenang sosok heroic tanah Pasundan, Wangsanata.

 

Referensi :

www.merdeka.com

indonesia-flashback.blogspot.com

indearchipel.com

Jalan Cibaduyut; Asal usul penamaan

150 150 Negorij Bandoeng

Siapa yang tak kenal dengan nama Cibaduyut di daerah Bandung. Terlebih setelah Bapak Presiden kita Joko Widodo beserta Bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla datang dan membeli sepatu di Cibaduyut. Memang saat ini Cibaduyut dikenal sebagai daerah khusus tempat berkumpulnya para pengrajin fashion dengan bahan dasar kulit. Seperti halnya sepatu, dan juga banyak tas yang diproduksi sekaligus dijual di daerah ini.

Tahukah sobat, darimana sebenarnya asal usul nama Cibaduyut ini berasal? Yang banyak orang tahu saat ini Cibaduyut hanyalah tempat berkumpulnya para pengrajin kulit. Apalagi sebelum masuk area Cibaduyut, ada patung besar yang iconic, yakni sepatu berwarna hitam.

Lalu apakah nama Cibaduyut ada hubungannya dengan icon sepatu itu?

Ternyata eh ternyata, menurut sesepuh masyarakat sekitar, nama Cibaduyut ternyata adalah karena banyaknya tumbuhan bernama Baduyut yang tumbuh di daerah sana. Sedangkan Cibaduyut sendiri pun sebenarnya berasal dari dua kata, yakni Ci dan Baduyut. Dimana Ci atau Cai adalah air, karena memang tumbuhan Baduyut ini selalu tumbuh disekitar tanah yang basah oleh air. Dari sinilah masyarakat sekitar menyebut daerahnya dengan sebutan Cibaduyut.

Sudah sampai situ saja asal usul nama Jalan Cibaduyut.

Eh ternyata banyak yang menunggu penjelasan soal Baduyut ya? Oke oke, jadi Baduyut itu adalah sejenis tanaman merambat yang dari klasifikasinya masuk keluarga dari Cucurbitaceae. Jadi masuk satu keluarga dengan mentimun, melon, maupun semangka. Kalau nama latinnya sih Baduyut ini biasa disebut Trichosanthes villosa Blume. Buahnya memiliki warna hijau agak putih saat mentah, dan ketika masak berwarna kuning pucat dengan adanya garis putih. Daging buahnya berwarna putih yang memiliki rasa sangat manis. Sedangkan bentuknya sendiri agak elips dengan panjang sekitar 10-15 cm. Kalau dibiarkan tumbuh, tanaman ini bisa mencapai panjang sampai 24 meter loh…. Wihh panjang banget kan? Baduyut juga dikenal sebagai tanaman obat untuk menyembuhkan flu dan diare.

Namun sayangnya tanaman bersejarah ini malah saat ini tidak tersisa di daerah Jalan Cibaduyut. Namun jangan sedih, sobat masih bisa menemukannya di daerah Pegunungan. Seperti halnya Lembang di Bandung Utara, dan Ciwidey di Bandung Selatan.

Jadi kesimpulannya tidak ada hubungan sama sekali nama Cibaduyut dengan icon sepatu ya sobat. Sudah terjawab kan? Jadi sekarang silahkan share ke teman-temanmu biar pada tahu. ^_^

 

 

 

Referensi :

radiob956fm.com
teamtouring.net
budayajawa.id

Bank Indonesia Kantor Bandung

1394 900 Negorij Bandoeng

Hampir setiap kota-kota besar di Indonesia memiliki kantor perwakilan Bank Indonesia. Tak terkecuali Bandung yang terbilang salah satu kota besar di pulau Jawa. Kantor Bank Indonesia di Bandung sendiri terletak di ujung Jl. Braga sebelah utara. Sebelum menjadi Bank Indonesia seperti saat ini, Bank Indonesia dipergunakan oleh De Javasche Bank yang merupakan bank sentral milik Pemerintah Hindia Belanda.

Gedung De Javasche Bank ini pertama kali dibangun pada tahun 1909, yang kemudian pada tahun 1918 sebuah gedung baru yang lebih besar dan menghadap ke arah Jl. Perintis Kemerdakaan dibangun di bawah rancangan arsitek Edward Cuyper Hulswitt.

Setelah revolusi, De Javasche Bank kemudian diambil alih oleh pemerintah Indonesia untuk kemudian dijadikan gedung Bank Indonesia Kantor Bandung.

 

Sumber gambar: dedjadoel.blogspot.com

Asal Nama Jalan Moh Toha

150 150 Negorij Bandoeng

Nama jalan Moh Toha berasal dari nama seorang pejuang revolusi kemerdekaan. Namanya lekat dengan peristiwa Bandung Lautan Api pada tahun 1946 dulu. Setelah berhasil meledakkan Gudang Amunisi milik tentara sekutu pada peristiwa tersebut, ia pun ikut meninggal di dalam ledakan.