Peran Hotel Homann dalam Sejarah Bandung

hotel homann sejarah bandung

Peran Hotel Homann dalam Sejarah Bandung

800 563 Irfan Noormansyah

Siapa tak tahu Hotel Homann ? Sebuah hotel legendaris di Kota Bandung yang masih berdiri tegak sampai dengan sekarang. Namun tak banyak orang yang tahu bahwa dulunya Hotel yang dibangun oleh Adolf & Maria Homann ini hanya berbilik bambu dan beratapkan jerami saat pertama kali berdiri pada sekitar tahun 1871 dengan nama Hotel Post Road.

Bangunan hotel tersebut beberapa kali mengalami beberapa kali perubahan bentuk dan nama hingga dikenal dengan nama Grand Hotel Homann. Perubahan paling signifikan terjadi pada tahun 1937-1939, di bawah intruksi pemiliknya yang baru yaitu Mr. F.J.A Van Es, arsitek ternama Albert Frederick Aalbers merancang bangunan Homann dengan gaya Streamline Art Deco yang megah. Bangunan tersebut menjadi kembaran bangunan Bank Denis (kini digunakan oleh BJB) yang terletak di kawasan Jl. Braga.

Nama Grand Hotel Homann pun berganti menjadi Hotel Savoy Homann pada tahun 1940. Nama Savoy ditambahkan untuk menegaskan kebesarannya. Bentuk bangunan Hotel Savoy Homann yang didesain A.F Aalbers pun bertahan sampai saat ini dengan penambahan fasilitas dan gedung baru di bagian belakang hotel.

Setelah Van Es meninggal dunia, kepemilikan sempat berganti kepada istrinya yang kemudian menjual Homann kepada R.H.M Saddak yang merupakan pengusaha ekspor-impor ternama di Indonesia. R.H.M Saddak juga tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Kepemilikan atas Homann pun kembali berganti kepada H.E.K Ruchiyat pada tahun 1987 sebelum akhirnya kini dimiliki oleh Bidakara Group sejak tahun 2000.

Hotel yang kini bernama lengkap Hotel Bidakara Grand Savoy Homann ini sempat ikut ambil bagian dalam peristiwa Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diselenggarakan pada tahun 1955. Di hotel inilah para perwakilan Negara yang hadir dalam event akbar tersebut menginap, termasuk Presiden Sukarno yang menetap di kamar 244. Kamar tersebut sekarang masih disewakan oleh pihak hotel dengan harga yang cukup lumayan. Kedatangan para perwakilan Negara peserta KAA tersebut masih dapat dilihat jejaknya pada buku tamu yang disebut dengan “Golden Book”. Buku ini masih bisa dilihat dalam etalase kaca di salah satu sudut Hotel Bidakara Grand Savoy Homann kini.

Selain para perwakilan Negara peserta KAA, sejarah pun sempat mencatat bahwa Hotel Homann pernah kedatangan aktor dunia Charlie Chaplin sebanyak dua kali. Kunjungan pertamanya pada tahun 1928 bersama rekan aktrisnya yaitu Mary Pickford, sedangkan kedatangannya yang kedua pada 1932 ia ditemani oleh kakaknya yaitu Sydney Chaplin.

Satu abad lebih setelah kehadiran Hotel Homann di Kota Bandung, Hotel ini telah menjadi sebuah bangunan heritage paling populer dan banyak dikunjungi wisatawan. Baik yang menginap maupun yang hanya ikut berfoto dengan latar bangunan tersebut.


Untuk mendapatkan data yang benar benar valid, Setiap artikel negorijbandoeng.com merupakan bahan diskusi yang bisa di tambah, dikurangi bahkan dikoreksi. Silahkan gunakan kolom diskusi dibawah dengan bijak, terima kasih 
wavatar

Irfan Noormansyah

Irfan saat ini bekerja di Your Bandung sebagai Digital & Content Specialist, alumni Manajemen UPI ini juga merupakan founder dari extrover.com. senang fotografi dan rajin mengikuti trend pemasaran dan bisnis. Ia juga aktif sebagai anggota Komunitas Aleut! dan koordinator Komunitas Levitasi Hore Bandung

All stories by : Irfan Noormansyah

Leave a Reply