Tokoh

Wangsanata, lebih dikenal dengan nama Dipati Ukur

300 424 Negorij Bandoeng

Yuk kenalan dengan Dipati Ukur. Jadi sebenarnya namanya adalah Wangsanata. Dikenal dengan nama Dipati Ukur karena ia adalah seorang Bupati pada saat itu. Dipati memiliki arti Bupati (di zaman sebelum kemerdekaan). Sedangkan Ukur berasal dari kata Tatar Ukur. Yakni nama daerah yang dalam bahasa Sunda berarti tanah atau wilayah. Karena itulah Wangsanata dikenal dengan sebutan Dipati Ukur.

Wangsanata atau Dipati Ukur ini mulai dikenal sosoknya setelah berusaha melepaskan tanah Bandung dari jajahan Mataram. Karena pada saat itu Mataram lebih kuat daripada Belanda yang masih lemah dalam hal militer. Wangsanata menjadi Dipati Ukur setelah menikahi putri Dipati Ukur Agung (Dipati Ukur sebelumnya. Oleh karena itu banyak riwayat yang mengatakan bahwa Dipati Ukur itu berjumlah lebih dari 1. Iya karena Dipati Ukur adalah jabatan. Bukan nama seseorang).

Dipati Ukur Wangsanata dikenal sebagai seorang sosok yang heroik. Ia berhasil menggalang massa dari tanah Pasundan agar semua kerajaan di Pasundan berjuang melepaskan diri dari Mataram, dan tidak tunduk kepada Mataram.

Karena peran heroiknya itulah banyak diceritakan turun temurun di masyarakat. Bahkan muncul juga beberapa mitos atas Dipati Ukur Wangsanata. Itu karena ia lebih memilih hidup bergerilya. Menutupi identitasnya. Tentu saja harus seperti itu agar jejaknya tidak diketahui oleh Mataram. Bahkan sampai saat ini pun pusaranya belum diketahui pasti dimana. Sama seperti halnya Pangeran Diponegoro yang sampai saat ini masih didebatkan pusaranya ada dimana. Karena memang pemberontak penjajahan pasti dicari-cari untuk dimusnahkan.

Nah bagaimana? Sekarang jadi tahu kan siapa sosok Dipati Ukur yang ada di jalanan Kota Bandung? Nah kalau sudah tahu, sekarang ceritakan dong kalau Jalan Dipati Ukur itu untuk mengenang sosok heroic tanah Pasundan, Wangsanata.

 

Referensi :

www.merdeka.com

indonesia-flashback.blogspot.com

indearchipel.com

sukarno di bandung

Jejak Sukarno di Bandung

594 431 Irfan Noormansyah

Ke Bandunglah aku kembali kepada cintaku yang sesungguhnya”, begitu bunyi sebuah kutipan populer dari Presiden pertama Republik Indonesia Dr. Ir. Sukarno kepada istrinya Inggit Garnasih di Bandung.  Inggit Garnasih sendiri merupakan istri kedua pria yang akrab dikenal dengan nama Bung Karno ini sebelum menjadi Presiden RI. Kurang lebih selama 20 tahun rumah tangga mereka berjalan, hingga akhirnya bercerai pada tahun 1943.

Selain karena kisah cintanya bersama Inggit Garnasih, Bung Karno memiliki jejak bersejarah yang ditinggalkannya di Kota Bandung. Bung Karno yang memiliki nama asli Koesno Sosrodihardjo ini tercatat pernah berkuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS) jurusan Tehnik Sipil atau yang kini dikenal dengan Insitut Teknologi Bandung (ITB).

Setelah lulus dari THS, Bung Karno sempat mendirikan Biro Insinyur bersama Ir. Anwari. Tak banyak yang tahu bahwa beberapa bangunan di Kota Bandung pun dirancang oleh pahlawan proklamator RI tersebut. Di bawah bimbingan arsitek ternama Charles Prosper Wolff Schoemaker, ia berkesempatan menjadi juru gambar Hotel Preanger. Tak berhenti sampai di situ, Bung Karno pun sempat mengarsiteki Rumah Dinas Walikota Bandung dan beberapa rumah yang tersebar di Kota Bandung. Ciri rumah rancangannya memiliki ornament Gada di bagian puncak atapnya, dengan alasan karena gada merupakan senjata dari tokoh pewayangan favoritenya yaitu Bima. Rumah hasil rancangannya dapat ditemukan di Jl. Kasim, Jl. Gatot Soebroto, Jl. Dewi Sartika dan beberapa kawasan lainnya.

Pada tahun 1929, Bung Karno pun pernah merasakan mendekam di balik dinginnya jeruji besi karena dianggap melakukan pemberontakan terhadap Pemerintahan Hindia Belanda. Selama kurang lebih 1 tahun 2 bulan, Bung Karno bersama ketiga kawannya disekap di Penjara Banceuy. Selama berada di dalam sel yang ukurannya hanya sekitar 2 x 1,5 meter ini, Bung Karno menuliskan pembelaannya yang diberi nama “Indonesia Menggugat”. Gedung Landraad atau dalam Gedung Pengadilan Negeri di mana ia diadili dulu kini dinamakan sesuai dengan judul pembelaan yang ia tulis dahulu, yaitu Gedung Indonesia Menggugat.