jalan

Jalan Aceh; Asal usul penamaan

150 150 Irfan Noormansyah

Untuk memudahkan petunjuk arah terhadap jalan-jalan di Bandung, maka pada jaman dahulu pengelompokkan nama jalan disesuaikan berdasarkan kategori tertentu. Untuk nama-nama jalan yang berada di sekitar Insulinde Park atau kini bernama Taman Lalu Lintas, nama-nama jalan tersebut dibuat berdasarkan nama daerah dan pulau-pulau besar di Nusantara. Contohnya bila kita berjalan-jalan ke daerah seputar daerah tersebut, kita akan menemukan Jl. Sumatera, Jl. Kalimantan, Jl. Jawa dan Jl. Aceh. Penamaan nama-nama tersebut juga memiliki kaitannya dengan rencana pemindahan Ibukota Hindia Belanda ke Bandung yang tidak jadi dilaksanakan. Nama-nama jalan di sekitaran area tersebut sering juga disebut dengan Archipelwijk.

Jalan Asia Afrika; Asal usul penamaan

150 150 Irfan Noormansyah

Jalan Asia Afrika memiliki kaitan yang sangat erat dengan pendirian Kota Bandung. Karena di sinilah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels menancapkan tongkatnya saat memerintahkan pendirian kota ini. Bekas ditancapkannya tongkat tersebut kini dijadikan Tugu Bandung Nol Kilometer.

Sebelum peristiwa Konferensi Asia Afrika, Jalan Asia Afrika bernama Grote Postweg atau disebut juga Jalan Raya Pos. Jalan ini merupakan sebuah ruas jalan yang dibangun oleh Daendels yang membentang dari Anyer sampai Panarukan yang memakan korban sampai ribuan jiwa dalam proses pembangunannya. Tujuan dibangunnya Jalan Raya Pos adalah untuk melancarkan komunikasi antar daerah kekuasaan sepanjang Pulau Jawa, serta sebagai jalur pertahanan militer.

Nama Jl Raya Pos kemudian berganti menjadi Jl. Asia Afrika setelah Konferensi Asia Afrika dilaksanakan di Gedung Merdeka yang berada di jalan ini.

Jalan Kebon Jukut; Asal usul penamaan

150 150 Irfan Noormansyah

Ruas jalan yang satu ini lokasinya tak jauh dari jalan-jalan dengan nama ‘kebon’ lainnya seperti Jl. Kebon Kawung dan Jl. Kebon Jati. Dulu di kawasan jalan tersebut terdapat sebuah lahan kosong yang hanya ditumbuhi oleh rerumputan dan ilalang saja. Secara Bahasa, jukut dalam Bahasa Sunda memiliki arti rumput. Jadi kebon jukut berarti lahan kosong yang ditumbuhi rumput.

 

Jalan Kebon Jati; Asal usul penamaan

150 150 Irfan Noormansyah

Asal mula penamaan Jl. Kebon Jati ini dikarenakan pada jaman dahulu kala tepat di kawasan tersebut terdapat sebuah gudang penyimpanan kayu jati gelondongan dalam jumlah besar.

 

Jalan Cikudapateuh; asal usul penamaan

150 150 Irfan Noormansyah

Dulu jalan ini merupakan kawasan yang asri dan banyak terdapat kolam air dan ditumbuhi rerumputan. Nyamannya kawasan ini tentunya mengundang hewan untuk berkunjung di sini. Salah satunya adalah kuda yang memang banyak mengkonsumsi rumput sebagai makanannya. Dari banyak kuda yang datang berkunjung, salah satu dari kuda tersebut kakinya terlihat patah atau pateuh. Oleh Karena itu, warga yang melihat kuda yang kakinya patah tersebut menamakan jalan di kawasan tersebut dengan nama Cikudapateuh.

asal usul dan sejarah jalan braga

Jalan Braga: Asal usul nama dan sejarah terkait

640 424 Irfan Noormansyah

Jalan Braga, salah satu ruas paling populer di Kota Bandung. Gedung-gedung bergaya arsitektur Eropa masih lestari di sepanjang jalan ini, hingga jalan ini menjadi tempat favorite untuk berwisata dan berfoto ria. Ada beberapa versi yang menyatakan asal usul nama Jalan Braga, salah satunya menyebutkan bahwa nama Jalan Braga diambil dari kata Bahasa Sunda yaitu “baraga” atau ‘ngabaraga” yang memiliki arti berjalan menyusuri sungai, karena memang Jalan Braga ini berada tepat di samping Sungai Cikapundung. Namun ada versi lain yang menyebutkan bahwa Braga diambil dari sebuah grup kesenian tonil dan musik yang bernama Toneelvereeniging Braga yang sering tampil di jalan tersebut. Selain itu ada juga versi yang menyebutkan bahwa Braga diambil dari sebuah minuman khas Rumania yang biasa disajikan di Societeit Concordia yang berada di ujung jalan tersebut.

Sebelum dikenal dengan nama Jalan Braga atau Braga Weg, jalan ini diberi nama Pedati Weg atau Jalan Pedati yang memang dulu banyak dilalui oleh moda transportasi tersebut. Dalam bahasa Belanda, Pedati Weg juga disebut dengan Karren Weg.

Bicara soal grup kesenian Toneelvereeniging Braga, grup ini merupakan bentukan dari Pieter Sijthoff yang merupakan Asisten Residen Priangan saat itu. Toneelvereeniging Braga kemudian banyak mendapat tempat untuk unjuk kebolehan di Gedung Societeit Concordia yang kini digunakan sebagai Museum Konperensi Asia Afrika Bandung. Mungkin dapat dikatakan bahwa versi pengambilan nama Braga yang paling mendekati kebenaran adalah karena ada Toneelvereeniging Braga. Karena setelah mereka mulai manggung di jalan ini pada tahun 1882, Karren Weg mulai dikenal dengan nama Braga Weg.

Di Gedung Societeit Concordia ini Toneelvereeniging Braga banyak menghibur para golongan elit Eropa yang tinggal di Bandung. Banyak di antara elit Eropa tersebut merupakan juragan perkebunan yang disebut dengan preangerplanters serta pejabat Pemerintahan Kolonial Belanda.

Nama Braga sendiri tak hanya berada di Bandung, Indonesia, karena kita juga dapat menemukan Braga sebagai nama sebuah kota di Portugal, sebuah negara di bagian barat daya Eropa